Author Archives: admin

LIBRARY GHOST STORY (2)

Episode 2: Blogger

Sejenak Wei Wei menatap wajah Prof. Tony sambil mengerjapkan matanya karena silau. Wei Wei mendongak ke atas melihat Prof. Tony yang tinggi menjulang sedang memandang tajam kearah Wei Wei, tangannya bersedekap, “I Know you’re a foreign student. But I have no exception for those who doesn’t put any attention to my class.”

“Maaf Prof, tadi malam saya tidak cukup istirahat. Saya….”. Sejenak Wei Wei ragu. “Ah sudahlah aku bilang saja bahwa aku membaca bukunya”, gumamnya dalam hati. “Saya membaca buku anda yang berjudul Internet of Thing untuk Misi Kemanusiaan”

Prof. Tony sedikit kaget, tapi tidak mau terlalu memperlihatkan karena dia berpikir mungkin ini hanya trik dari mahasiswa menghindari hukuman. “Baik, kalau memang kamu baca buku itu, kamu bikin resensi 10 halaman, sore ini jam 3 serahkan ke ruangan saya, kalau tidak sanggup, nilai kamu D!”

Wei Wei kaget menerima tugas itu. “Aku belum pernah membuat resensi buku, apalagi jam 3 sore harus selesai gawat ini”.  “Baik Prof.”, tak ada pilihan lain kecuali menyanggupi. 

Selesai kuliah Prof. Tony, Wei Wei membereskan bukunya sambil berpikir cara membuat resesensi buku.  Wei-Wei bertanya pada Andi teman di sebelahnya, “kamu tau bagaimana caranya bikin resensi buku?”

Andi berpikir sejenak, “Aku nggak tau tapi kamu bisa minta tolong ke pustakawan di kampus kita.”

Wei Wei, “ Oh iya, aku baru ingat kemarin malam aku ke perpustakaan ada seorang librarian yang bantu aku, coba nanti telepon perpustakaan mungkin dia bisa bantu.”

Wei Wei mengeluarkan HPnya dan memencet nomor Perpustakaan.

Ningsih, petugas administrasi bernama   menerima telepon itu, “Hallo, ini Perpustakaan UGM, ada yang bisa kami bantu?”

“Saya Wei Wei, mahasiswa Fakultas MIPA, apakah Pak Maman ada ditempat siang ini? Saya minta tolong dibantu untuk tugas resensi buku.”

“Pak Maman? Sebentar ya saya tanyakan ke beliau dulu karena setau saya jam 9 beliau ada meeting dengan rektorat.”

Maman yang kebetulan ada di dekat Ningsih bertanya, “Siapa yang telepon?”

“Ini ada mahasiswa MIPA bernama Wei Wie ingin bertemu bapak.”

“Ok, biar saya jawab”. Maman meraih gagang telepon. “Hallo, ada yang bisa saya bantu?”

“Begini, saya ada tugas membuat resensi dan harus dikumpulkan sore ini pukul 3, bisakah anda bantu saya?”. Wei wei menyampaikan singkat. 

“Baik, nanti jam 12 siang ya, karena pagi ini ada rapat, temui saya di ruang diskusi Perpustakaan“

###

Menjelang pukul 12 siang Wei Wei ke perpustakaan untuk menemui Maman. Wei Wei menunggu di ruang diskusi dan duduk di sofa berwarna coklat muda. Baru pertama kali ini Wei Wei ke ruang diskusi. Ruang  itu tampak nyaman, dan sejuk. Muat untuk 6 orang dengan seperangkat sofa dihiasi wallpaper dinding bermotif bunga kecil-kecil. Pewangi ruangan beraroma bunga lembut berasal dari aromatherapy yang ada di pojok ruangan di sebelah tanaman. Wei Wei tersenyum suka dengan ruangan ini karena nyaman dan bisa untuk belajar dengan tenang.

Maman datang dari arah ruangan kerjanya, dari kejauhan dia melihat Wei Wei tampak cantik. Rambut tergerai sebahu, menggunakan baju berwarna biru muda. Rambut Wei Wei yang biasanya tergerai sebahu diikat ekor kuda.

“Selamat siang”, Maman datang dan mengulurkan tangan untuk salaman.

“Selamat siang, maaf mengganggu waktu anda.”

“Tugas nya resensi buku apa ya?”

Wei Wei menceritakan kejadian dia tertidur di kelas dan mendapat hukuman dari Prof. Tony untuk membuat resensi buku.

Mendengar ceritanya Maman tertawa. 

Kok, tertawa si? Saya malu dilihat seluruh kelas.” Kata Wei Wei sambil menutup mukanya dengan kedua tangan.

Kenapa musti malu? Artinya itu kamu dikenali Prof. Tony. Baiklah ayo kita mulai”

Wei Wei membuka laptopnya Merk Sanwa keluaran terbaru dan membuka buku Prof Tony.

Saya sudah membuat beberapa catatan tentang buku ini.”, kata Wei Wei.

Hmm, tulisan tangan kamu bagus juga ya, rapi dan mudah dibaca, tapi aku nggak bisa bacanya karena ini tulisan aksara Cina.” Kata Maman sambil tertawa.

Oh, iya maaf,” kata Wei Wei. “Baik, ini saya langsung tulis di laptop catatan saya.”

Saya akan memberikan beberapa contoh resensi buku.”

Maman memperlihatkan blog yang berisi resensi buku di langitbiru.com.

Blog ini banyak meresensi buku-buku yang bagus, kamu bisa lihat sendiri. Macam-macam jenis resensi. Yang ini resensi model cerita karena dari buku sastra” Kata Maman

Maman melanjutkan scroll ke bawah beberapa contoh resensi dari blog itu.

Nah, yang ini contoh resensi informatif, resensi deskriptif dan di bawahnya lagi resensi kritis. Dari identitas buku, bagian menarik dari buku kamu bahas di resensi. Intinya kamu cerita pada pembaca buku ini tentang apa dan kenapa menarik untuk dibaca. Kamu mau bikin yang model mana?” tanya Maman kepada Wei Wei

Ini blog siapa?” tanya Wei Wei

Maman hanya menggelengkan kepala dan tersenyum.

Oh, baiklah, ini saya akan membuat resensi model kritis, karena saya menemukan beberapa catatan kesalahan minor dari buku Prof. Tony.”

Kamu tulis saja, aku tinggal sebentar nanti aku periksa lagi.”

###

Maman berjalan keluar meninggalkan Wei Wei yang sedang mengerjakan resensi. Maman berjalan ke arah kantin Bu Walimah di samping Perpustakaan. Memesan soto ayam dan es teh manis, masing-masing 2 porsi untuk dibawa ke ruang diskusi. Soto di kantin ini terkenal enak dan gurih, sesuai lidah Maman. Kelewat jam sedikit bisa kehabisan soto, karena mahasiswa dan karyawan dari berbagai fakultas juga sering makan di situ.

Sepertinya kita harus makan dulu.” Kata Maman kepada Wei Wei.

Bau harum soto menyerbak ke ruangan diskusi.

“Eh, maaf jadi merepotkan saya nanti makan di kantin saja setelah selesai tugas”

Maman,”It’s okay, ini sudah dipesan, kamu harus coba soto ayam ini.”

Dari kejauhan Yani, petugas sirkulasi melihat Maman dan Wei Wei yang sedang di ruang diskusi. Wajah Yani tampak masam, sudah lama dia suka sama Maman, tapi sepertinya diabaikan. Yani ingat betul malam itu Wei Wei meminjam buku di perpustakaan. Penasaran, Yani melihat data keanggotaaan di Sistem Perpustakaan SIPUS. Dia ketik nama Wei Wei untuk melihat datanya. Dari kejauhan Yani memfoto Maman dan Wei Wei yang ada di ruang diskusi.

Bersambung

LIBRARY GHOST STORY (1)

by: Nova Sarva & Pambuka

Epidose 1: Perkenalan

Wei Wei Mahasiswa pertukaran pelajar dari Cina melangkah masuk ke Perpustakaan Pusat di UGM, salah satu Universitas terbaik di Negeri ini. Gadis berkulit putih, bermata sipit dengan rambut tergerai sebahu itu, baru dua hari di UGM. Beberapa teman baru sudah diperolehnya. Namun, terkadang beberapa hal masih dilakukan sendirian. Seperti halnya di China, Wei-wei sering mangkal di perpustaskaan kampus. Kebiasaan ini juga dibawa ketika pertukaran mahasiswa di UGM. Malam itu, akhir pekan terakhir di bulan Oktober, Wei-wei ke perpustakaan kampus. Ada tugas mencari bahan riset yg amat sulit dari Prof. Tony, dosen barunya.

Di mata Wei-wei, Prof. Tony dosen yang cerdas. Dalam usia muda, sudah memperoleh gelar profesor, dengan banyak penelitian dan paten. H-indeks di Scopusnya tinggi, apalagi di Google Scholar. Jejaring risetnya lengkap dari 5 benua. Mahasiswa banyak yang antri menjadi bimbingannya. Menjadi bimbingan Prof. Tony juga berarti mendapatkan jejaring yang luas. Namun, mahasiswa bimbingannya harus siap dengan sikap perfeksionisnya. Sekilas, Wei-wei kagum dengan Prof. Tony.

Prof. Tony memberi tugas mahasiswa membuat prototipe “Demo Aplikasi Game Online” Wei wei merasa ini adalah tugas tersulit. Dia agak bingung untuk memilih buku mana yang akan dibaca. Dia mondar mandir di sekitar rak buku-buku komputer. Maman pustakawan senior dan paling disegani di kampus memperhatikan Wei Wei dari kejauhan.

Pelan-pelan dia menuju ke arah Wei Wei

“Ni hao”, Maman menyapa.

Wei wei menoleh ke samping. Dadanya berdesir. Gugup, dan sejenak tak ada kata terucap. Di samping Wei-wei berdiri laki-laki, yang seolah dikenalnya. Wajahnya mirip seperti pacarnya yang saat ini dia tinggal di China. Tinggi, putih, rambut sisir tengah, berbaju rapi. Pada name tag yang terpasang di dada kirinya, tertulis: “Maman/Librarian”. Wei-wei pun sadar, yang berdiri di hadapannya seorang pustakawan.

“Ni hao”, kata yang begitu fasih diucapkan lelaki itu pun, dijawab Wei-wei.

“You yixie wo keyi bangzhu?”, lelaki itu melanjutkan sapaannya.

Senenak Wei Wei terperanga,  tidak menyangka Maman bisa bahasa Mandarin.

“Wo De Mingzi shi Wei wei”, Wei-wei menyambut komunikasi Maman.

Maman tersenyum. “Maaf saya hanya bisa sedikit Mandarin, Wei Wei namamu?”

Wei wei mengangguk.

“Ada yg bisa saya bantu?”

Wei wei menatap ragu sejenak. Kemudian dia berkata, “Saya ada tugas kuliah ilmu komputer tapi bingung buku mana yg harus saya baca”

Maman terdiam sejenak. Sedikit kaget, perempuan cantik di hadapannya begitu fasih berbahasa Indonesia. Sedikit kesalahan aksen, wajar. Namun terasa jelas didengar.

“Waw, Bahasa Indonesia mu sangat lancar sekali. Padahal baru 2 hari di Indonesia”.

“Sebelum ke Indonesia, saya belajar budaya dan bahasa Indonesia. Saya tahu beberapa tempat wisata dan beberapa nama tari di Jogjakarta. Gua Pindul, Pantai Nglambor, sampai Green Village di Gunungkidul. Atau Tari gambyong dan lainnya”.

“Luar biasa… Semoga bukan hanya tahu, suatu saat kamu harus melihatnya langsung”. Maman, sebagai pustakawan sekaligus memromosikan tempat wisata di Indonesia.

“Oia, ilmu komputer… untuk dasar kamu bisa coba baca buku “Introduction to Modern Computer Programming”, yang ditulis oleh John Naisbit. Atau, untuk online app, kamu bisa baca buku ini”. Maman menyodorkan buku bersampul hardcover, terbitan penerbit terkenal di Amerika.

Wei-wei meraih buku itu, dia lihat sampulnya. Kaget. Ada yang menjadi fokusnya di cover itu. “by Tony Andrianto”. “Tony Andrianto?”, Wei-wei melafalkan nama itu. Maman jelas mendengar dan melihat Wei-wei bertanya-tanya.

Wei wei bertanya pada Maman “Kamu tau Prof. Tony Andrianto?”

Maman mengangguk “Siapa yg tidak kenal Prof. Tony. Dulu beliau adalah mantan siswa teladan penerima beasiswa dari Swiss Federal Intitute of Technology Zurich Satu2nya dari Kampus kita”

Mata Wei wei bersinar kagum. “Wow sangat mengesankan”

Wei wei melihat jam tangan, waktu sudah pukul 7 malam. “Hmm,sepertinya saya harus pulang dan pinjam buku-buku ini, bagaimana saya bisa pinjam?

Maman “Silakan mari saya bantu, ke meja sirkulasi”

Maman dan Wei-wei menuju meja sirkulasi. Mereka berjalan menyusuri lorong, dan lewat di sela-sela rak buku. Terbuat dari kayu, dan begitu kokoh menyangga buku tebal koleksi perpusakaan. Mata Wei-wei menyapu suasana.

Masih ada mahasiswa yang sibuk dengan laptop, buku, diskusi, atau sekedar bersantai di ruangan itu. Berbagai hiasan juga ada di perpusakaan itu. Ada lukisan besar wajah manusia. Wei-wei memandanginya, tertarik dan seolah dia tahu siapa dia. “Gus Dur?”.

“Ya, itu foto Gus Dur. Salah satu tokoh bangsa kami. Pernah menjadi presiden RI, meski kemudian diturunkan. Namun sejak itu, justru namanya harum. Kamu tahu dia?. Maman menjawab sekaligus bertanya.

“Ya, Gus Dur. Saya pernah membaca biografinya lewat bukunya Benedict Richard O’Gorman Anderson. Dia luar biasa. Kamu harus bangga punya tokoh seperti Gus Dur, Maman. Kami sangat berterimakasih pada Gus Dur. Berkat beliau, saudara-saudara kami bisa merayakan tahun baru imlek di Indonesia”. Wei-wei menjawab, sekaligus menyebut nama Maman di akhirnya. Menandakan Wei-wei seorang yang supel, mudah bergaul, namun tetap menaruh hormat pada orang yang bersamanya. Bacaannya juga luas. Tidak hanya tentang komputer, namun juga budaya, juga biografi para tokoh.

###

Tiba di meja sirkulasi petugas sirkulasi bernama Yani siap-siap membereskan tasnya mau pulang. Dia kaget malihat atasannya, Maman, ke mejanya. Agak gugup dia berkata “Eh, anu Pak, saya mau..”

“Sudah kamu pulang saja, saya yg membantu mahasiswi ini”, Maman menangkap kekagetan Yani.

“Eh iya pak, maaf saya duluan”. Yani pun pergi meninggalkan atasannya itu, berdua dengan Wei-wei.

Di meja sirkulasi Maman memberikan formulir pendaftaran anggota utk diisi Wei Wei

Maman membaca biodata Wei Wei. “Guangzhou? Your hometown? Sekota dengan Jack Ma rupanya”

Wei wei mangangguk. “Iya betul. Aku kagum dan ngefans dengannyaa. Kebetulan tujuanku ke kuliah di sini adalah karena melihat beberapa artikel Jack Ma yang menyebutkan Indonesia sebagai pasar ritel online terbesar. Terus terang aku penasaran.”. Beberapa istilah kekinian di ucapkan Wei-wei, bukti bahwa benar-benar dia memahami budaya Indonesia, termasuk budaya pop-nya.

“Oo begitu rupanya, ini bukunya jangan sampai terlambat kembalikan ya”

Wei wei menerima buku dari Maman “Xie xie, maaf saya pulang dulu”.

###

Wei-wei menuju ke pintu keluar. Membuka pintu, kemudian ke halaman perpustakaan. Sebuah handphone dia keluarkan. Tampak dari merk Mi yang tertempel di handhpone, bisa dilihat negara produsennya. Wei-wei begitu mencintai produk negerinya. Sebuah taksi online dipesan melalui handphone tersebut.

Sambil menunggu taksi, dia melihat perpustakaan dari luar. Memang tidak sebesar dan semegah The Tianjin Binhai Public Library. Pada artikel yang pernah dibacanya di Hipwee, tertulis testimoni  “masih nanggung kerennya”. Apalagi teknologinya. Tentunya jauh. Namun Wei-wei melihat ada aura “kepustakawanan” klasik yang begitu terasa. Hubungan antara pustakawan dan pemustaka begitu istimewa, serta kultur timur yang begitu eksotis. Sesuatu yang sulit ditemukan di negaranya. Kecuali satu yang disesalkan Wei-wei: Yani, petugas sirkulasi yang mendahului pulang, dan membiarkan atasannya melayaninya. Namun dari situ, muncul kekaguman pada Maman. Seorang atasan yang mau melakukan pekerjaan rutin yang ditinggalkan stafnya.

Sebuah mobil mendekat. Setelah memastikan nomor platnya sama dengan yang tertulis di aplikasi, Wei-wei membuka pintu, dan masuk. Tujuannya jelas. Menuju dormitory mahasiswa asing yang sudah disiapkan kampus. Selain istirahat, dia ingin membuka buku yang baru saja dipinjamnya. Plus satu buku tulisan Prof. Tony, yang sebenarnya belum dia butuhkan. Nama Prof. Tony-lah yang membuat dia harus meminjam buku itu.

Selepas mandi dan istirahat, Wei Wei membuka lembar buku Prof. Tony. “Internet of Thing untuk Kemanusiaan. Wei Wei mencatat beberapa kalimat. Semakin dibaca semakin kagum karena Prof. Tony yg dikenalnya selama ini ternyata punya perhatian begitu besar utk misi kemanusiaan.

Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 02.00 malam. Buku setebal 200 halaman itu slsai dibaca Wei Wei. Wei wei kaget karena belum sempat tidur padahal besok pagi ada kuliah Prof. Tony. Keesokan harinya Wei Wei kuliah di kampus MIPA. Matakukiah “Algoritma Master Science” pengajar Prof. Tony. Di tengah perkuliahan beberapa kali Wei Wei menguap. Hal ini tak luput dilihat Prof. Tony. Wei Wei tidak tahan dan tertidur di kursinya.  “Saya sangat tidak suka ada mahasiswa tidur saat kuliah saya!!!”, Prot. Tony berkata dengan nada tinggi. 

Andi berusaha membangunkan Wei Wei “Sst sst bangun.”

Wei wei bangun dan kaget Prof. Tony ada di sebalahnya dengan wajah penuh amarah

Bersambung

Workshop “Research Concept Development”

Workshop “Research Concept Development”

Bersama: Dr. Alvin Lee

Dr. Alvin Lee is a lecturer in marketing at Deakin University, Australia.
He is a world-class research publisher with current, relevant, high-impact and well-funded research programs. He has successfully built groups of capable researchers to work on his research programs.

Jum’at, 6 Juli 2018
08.30 s.d. 11.45
Ruang Seminar Perpustakaan UGM

Pendaftaran:
ugm.id/DX (khusus warga UGM, login dulu ke email UGM)

_Research Concept Development_Add heading (4)

Janu Saptari, S.IP. menjadi Pustakawan Terbaik 3 DIY

WhatsApp Image 2018-05-14 at 1.23.11 PMJanu Saptari, pustakawan UGM, kembali menorehkan tren positif. Dia menjadi juara 3 Pustakawan Berprestasi yang diselenggarakan oleh BPAD DIY. Kompetisi ini dilakukan di depan juri yang terdiri dari: Sukirno (Pustakawan UGM), Lasa Hs (Pustakawan UMY),  Anastasia Susiati (Pustakawan UAJY),  Anis Masruri (Dosen UIN Sunan Kalijaga), dan Siti Indarwati (Pustakawan Perpustakaan Daerah Gunungkidul).

Kompetisi ini merupakan kompetisi tahunan. Setiap tahun UGM juga selalu menyertakan wakilnya. Janu menulis artikel yang berjudul “Disrupsi perpustakaan: Tantangan dan peluang bagi pustakawan”, pada lomba kali ini. Janu, sebagaimana penuturannya, artikelnya terinspirasi oleh kalimat yang disampaikan Lankes, “The Mission of Librarians is to Improve Society Through Facilitating Knowledge Creation in Their Communities”. Tentunya Janu tidak sembarangan memilih kutipan Lankes ini. Apa yang disampaikan Lankes, merupakan panduan pustakawan yang mendasar, dan dapat diterapkan pada berbagai proses kerja pustakawan.

Capaian-capaian yang dilakukan oleh pustakawan UGM merupakan bentuk pengembangan diri pustakawan UGM. Tentunya akan semakin baik pada masa-masa yang akan datang.

Inilah Para Pustakawan berprestasi UGM 2018

Jumat (11/5) di Ruang Seminar Perpustakaan UGM diumumkan hasil penilaian pemilihan Pustakawan Berprestasi UGM 2018. Setelah melalui berbagai seleksi, dari 13 peserta dipilih 3 terbaik.

  1. Terbaik Pertama: Rusna Nuraini, pustakawan Fakultas Biologi
  2. Terbaik Kedua: Maniso, pustakawan dari FKKMK
  3. Terbaik Ketiga: Isnaini Syamsiati, dari Fakultas Teknik

Seleksi pertama diawali dengan seleksi dokumen, tes tertulis, FGD, dan kemudian diakhiri presentasi karya unggulan. Rusna menulis makalah “Kolaborasi Pustakawan & Mahasiswa: Sebuah Best Practice di Fakultas Biologi”. Sedangkan Maniso menulis “Peran Pustakawan dalam Difusi Informasi melalui Media Sosial”. Sementara Isnaini menuliskan “Makerspace di Perguruan tinggi sebagai sarana membentuk kreatifitas”. Peserta mempresentasikan, dan menjawab pertanyaan para juri yang terdiri dari: Safiratu Khoir, Ph.D., Purwani Istiawa, M.A., Ida Fajar Priyanto, Ph.D, Nurhayati, M.Si., dan Fathul Himam, M.Psi.,MA.,Ph.D.

Berbagai ucapan diberikan oleh pustakawan kepada mereka. Demikian pula, tanggapan dari para pemenang.

Mari kita jalani proses belajar ini,, terimakasih buat Mbak Nina sebagai sahabat terbaik sekaligus guru saya  yang selalu kasih semangat,  bimbingan,  arahan,, dan tidak bosen saya  repoti (Rusna Nuraini).

Terima kasih semuanya. Semua juara. Tetap semangat (Maniso)

Terimakasih, semuanya juga jadi juara lho… Kita maju bersama dan sukses bersama juga…. (Isnaini Syamsiati)

WhatsApp Image 2018-05-11 at 9.42.20 AM

 

WhatsApp Image 2018-05-14 at 1.32.51 PM

Pada hari itu, juga diadakan diskusi “Beyond the bubbles: pustakawan dan perpustakaan yang lebih”, yang disampaikan oleh Ida Fajar Priyanto, Ph.D., dan dimoderatori oleh Aris Setiawan (Pustakawan F. Biologi). Slide dapat diunduh di http://pustakawan.lib.ugm.ac.id/blog/download/beyond-the-bulbbles-ida-fajar-priyanto-11-mei-2018/

Beyond the bubbles: pustakawan dan perpustakaan yang lebih

Slide2 (3)

“Beyond the bubbles: pustakawan dan perpustakaan yang lebih”
Sebuah forum berbagi, oleh-oleh lawatan intelektual dari Hongkong.
Oleh: Ida Fajar Priyanto, Ph.D.

+ Pengumuman pustakawan berprestasi UGM 2018

🕰Jum’at, 11 Mei 2018
🏛Jam 8.30 – 11.00
🖋@Ruang Seminar Perpustakaan UGM

🤝Kontribusi peserta selain anggota Forum Pustakawan UGM: Rp25.000, *)
✏Pendaftaran di ugm.id/beyond

info lengkap: http://pustakawan.lib.ugm.ac.id/blog/2018/05/beyond-the-bubbles-pustakawan-dan-perpustakaan-yang-lebih/
*) jika ingin sertifikat, ada tambahan Rp10.000

[kegiatan] Bedah buku “Psikologi Perkawinan dan Keluarga”

poster pustakawan 2Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2015) keluarga inti  terdiri dari ayah, ibu dan anak. dan merupakan lembaga pendidikan terkecil yang berpengaruh terhadap perkembangan kualitas dan martabat bangsa.

Percepatan era globalisasi dan teknologi informasi yang ditandai dengan hadirnya perangkat teknologi informasi canggih sebagai alat komunikasi berupa internet, telah mempengaruhi aspek kehidupan manusia termasuk kehidupan  keluarga. Banyak manfaat positif diperoleh dengan hadirnya internet, namun manfaat yang negatif pada kenyataannya juga lebih banyak.

Prof. Dr. Tina Afiatin dkk, mencoba memberikan solusi atas permasalahan tersebut dalam karya terbarunya yang berjudul Psikologi Perkawinan dan Keluarga: penguatan keluarga di era digital berbasis kearifan lokal”. Buku ini membahas secara mendalam tentang peran penting keluarga di era digital. Mengaitkan pembahasan dengan kearifan lokal menjadikan buku ini menarik untuk diperbincangkan, mengingat keluarga merupakan tempat pendidikan pertama dan semestinya paling berpengaruh pada proses menapaki kehidupan.

Kegiatan ini akan dilaksanakan pada:

Hari/tanggal :  Kamis, 26 April 2018

Waktu :  09.00 – 12.00 WIB.

Tempat :  Perpustakaan Pusat UGM Gedung L1 Lantai 2.

Pembicara:

  1. Penulis buku :  Prof.Dr. Tina Afiatin, MSi., Psikolog.
  2. Pembedah :  Dr. Budi Andayani, MA., Psikolog.

Acara ini tidak memungut biaya bagi para pendaftar. Pendaftaran dapat dilakukan melalui ugm.id/bbpsikologi